Jumat, 23 November 2012

5 Hal romantis yang diinginkan pria dari pasangannya


Apabila kita lihat hubungan sepasang kekasih kita melihat bahwa laki-laki selalu di tuntut untuk aktif dari pada wanita. Dalam sekecil apapun laki-laki cenderung harus bisa lebih aktif dari pada wanita seperti mengasih perhatian-perhatian kecil sekalipun. Apabila jalan dengan pasangan laki-laki cenderung menanyakan kita mau makan apa? Sementara wanita hanya bersifat fasif dengan jawaban yang sangat simpel “terserah”.
Tapi taukah anda bahwa pria juga berharap wanita atau pasangannya dapat melakukan hal yang sama, pria akan sangat menghargai tindakan yang anda lakukan terhadap dirinya walau sekecil apapun itu yang dapat anda berikan padanya.
Berikut adalah lima hal romantis yang di inginkan pria dari pasangannya, seperti dilansir merdeka.com dalam Allwomenstalk.

1. Merasa bangga padanya

Betapa indahnya jika setiap pasangan selalu merasa bangga pada hubungan mereka. Anda mungkin berpikir ini hanyalah hal kecil. Sebaliknya, pria merasa sangat tersanjung ketika dia tahu bahwa pasangannya bangga memilikinya.

2. Memberi kejutan

Wanita pasti suka diberi kejutan, begitu juga pria. Tidak perlu memberi hadiah besar dan mahal, cukup sesuatu yang disukainya, seperti makanan atau minuman favoritnya. Kejutan kecil Anda bisa berarti besar baginya.

3. Menciumnya

Anda bisa menunjukkan rasa cinta dengan memberikan kecupan singkat di pipi atau jemarinya. Pria suka ketika wanita memberi ciuman spontan yang membuatnya terkejut. Tunjukkan bagaimana perasaan Anda padanya!

4. Menulis pesan romantis tentangnya

Sesekali, berikan dia kejutan berupa pesan romantis untuk kencan berdua. Anda mungkin berpikir bahwa ini terlihat norak dan kampungan. Namun, ada banyak cara untuk mengekspresikan cinta. Bukan hanya dengan kemewahan atau hadiah mahal. Sesuatu yang sederhana terkadang lebih bermakna.

5. Tertarik pada apa pun yang dilakukannya

Mungkin cara seperti ini dapat membuat pria merasa nyaman, tenang, dan bahkan merasa bahwa dirinya sangat berarti bagi anda sebagai pasangan. jadi sukai lah apa yang sedang dilakukannya dan dkerjakannya sehingga dapat menjadi semangat dalam hidup nya.

Layaknya wanita, pria juga harus mendapatkan perhatian khusus dari pasangannya berkan dia suprise yang membuatnya semakin mencintai anda! Karena semua orang tentu ingin di cintai dan di hargai.


6 Tips cinta untuk Remaja


Siapa yang tidak pernah jatuh cinta, semua orang tentu pernah mersakan bagaimana rasanya jatuh cinta. Tidak bisa di ungkapkan bagaimana detail nya jatuh cinta, yang jelas bermacam rasa yang bergejolak di dalam jiwa membuat jantung berdegub kencang apabila bertemu dengan si dia sang pujaan hati.
Ya itu lah yang sebut banyak oranga dengan jatuh cinta. Berikut adalah enam tips cinta untuk anak SMA, seperti dilansir merdeka.com.
1. Jangan biarkan teman mempengaruhi hubungan Anda

Jangan biarkan teman-teman Anda mendikte hubungan Anda dengan si dia. Mereka mungkin punya pandangan sendiri tentang pacar Anda. Namun, Anda telah mengenalnya lebih dulu dibandingkan mereka.

2. Persetujuan orang tua

Anda harus mendapatkan persetujuan orang tua terlebih dahulu, sebelum memutuskan untuk berkencan. Tak ada salahnya untuk meminta pendapat dari mereka. Toh, mereka juga pernah muda.

3. Hindari sentuhan fisik

Setiap remaja perlu mengetahui apa akibat dari seks bebas dan bahayanya bagi mereka. Sebagian besar orang tua merasa topik itu masih tabu. Sebaliknya, mereka harus tahu apa bahayanya. Jangan malu bertanya dan berbagi curhat dengan orang tua, terutama tentang sentuhan fisik.

4. Jujur pada perasaan Anda

Anda harus benar-benar jujur dan terbuka dengan perasaan Anda. Jika Anda telah memutuskan untuk berpacaran, bangunlah komunikasi yang baik dengan sang pacar. Lagi naksir seseorang? Katakan apa yang Anda rasakan!

5. Jadilah dirimu sendiri!

Anda tak perlu berusaha terlalu keras untuk mengubah diri demi bisa bersama si dia. Percayalah, kepolosan dan keaslian Anda menjadi modal utama dalam menemukan pacar idaman.

6. Jangan lebay!

Sikap berlebihan bikin si dia ilfeel pada Anda. Bukannya naksir, dia malah malas berhubungan dengan Anda. Plis, jangan lebay!

Bagaimana dengan tips cinta anda sendiri, atau pengalaman masa SMA bagi anda yang sudah melewatkan masa SMA? Yang jelas pengalaman cinta seseorang tidak akan sama dengan pengalaman cinta orang lain. So nikmatilah pengalaman cinta anda di masa lalu yang sangat menyenangkan.  

Kamis, 22 November 2012

KONSELING PSIKOLOGI INDIVIDUAL



A.    Pengantar Konseling psikologi individual

Model konseling psikologi individual dipelopori oleh Alfred Addler. Model konseling psikologi individual didasarkan atas pandangan holistic mengenai pribadi manusia. Kata individual berarti bahwa manusia dipandang sebagai suatu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Karena itu manusia juga tidak terpisah menjadi bagian-bagian, maka kepribadian itu dipandang sebagai suatu kesatuan atau keseluruhan yang tidak dapat dipisahkan.
Salah satu implikasi dari pandangan tersebut adalah bahwa klien seyogyanya dipandang sebagai suatu bagian terpadu dalam system social. Psokologi individual tertumpu pada keyakinan pokok bahwa kebahagiaan dan keberhasilan seseorang pada umumnya berkaitan dengan keterikatan social. Alder berpendapat bahwa manusia mempunyai kebutuhan yang kuat untuk merasa bersatu dengan orang lain.
Manusia memiliki kebutuhan yang kuat untuk menempati dan menemukan tempat yang berarti dalam masyarakat. Tiadanya perasaan untuk mendapatkan tempat dan diterima oleh orang lain merupakan salah satu musibah yang paling hebat terhadap perasaan manusia (Rochman Natawidjaja; 1987). Manusia itu tidak hanya membutuhkan orang lain, manusia juga mempunyai perasaan untuk diterima oleh orang lain.

B.     Dasar-dasar kepribadian
Menurut Gerald Corey (1988), Alder memandang kepribadian manusia sebagai berikut:
a.       Motivasi bertanggung jawab secara social
Alder melihat bahwa individu termotivasi dalam hidupnya adalah untuk mewujudkan tanggung jawab social. Individu bertingkahlaku karena dia melihat bahwa dirinya merasa perlu untuk berbuat bagi kebaikan sosialnya. Menurut Adler (dalam Rochman Natawidjaja, 1987), perjuangan yang paling penting dari manusia adalah perjuangan untuk mencapai keberartian yang merupakan gerakan ke arah pemenuhan tujuanuntuk mencapai keberartian yang merupakan gerakan kearah pemenuhan tujuan untuk mencapai identitas yang unik dan untuk memiliki sesuatu.
Motivasi bertanggung jawab secara sosial biasa juga disebut dengan dorongan kemasyarakatan. Menurt Agus Suyanto (1980), dorongan ini akan tampak dalam bentuk keinginan bekerjasama, berkelompok, berhubungan social, hubungan antar pribadi, atau masuk kedalam suatu organisasi, dan sebagainya.

b.      Motivasi untuk mencapai sesuatu
Individu dalam bertingkahlaku selalu mengarah pada usaha pencapai sesuatu. Sesuatu itu dapat dalam bentuk materi maupun yang sifatnya non materi. Orang bekerja ingin mendapatkan upah dalam bentuk uang, atau juga kepuasan atau penghargaan dalam bentuk lainnya.
Pandangan Sigmun Freud yang beranggapan bahwa tingkahlaku seseorang itu ditentukan oleh kebutuhan dari dalam, sedangkan menurut Adler yang terpenting adalah interaksinya dengan lingkungannya. Kepribadian individu ditentukan oleh tiga hal, yaitu pembawaan, lingkungan dan interaksi antara pembawaan dan lingkungan. Artinya individu yang bersangkutan secara langsung berinteraksi.

C.    Perkembangan kepribadian
Pada periode umur empat sampai lima tahun merupakan saat yang menjadi dasar yang sangat menentukan perkembangan kepribadian seseorang. Adler meyakini bahwa setiap orang dilahirkan dengan dilengkapi “feeling of inferiority” (rasa rendah diri), namun dibalik itu ada dorongan untuk menjadi superiority (rasa diri lebih).
Dengan adanya feeling of inferiority, timbul keinginan untuk menjadi superiority. Dengan demikian orang yang menyadari dirinya memiliki kekurangan apabila dibandingkan dengan orang lain akan berusaha untuk lebih maju. Menurut Rochman Natawidjaja (1987), perasaan rendah diri itu dapat merupakan sumber kreativitas; tujuan hidup adalah kesempurnaan dan bukan kesenangan.
Perjuangan mencapai superiority itu mendorong usaha-usaha dalam diri individu. Gerald Corey (1988), menguraikan bahwa orang mencoba mengatasi inferioritas dasarnya dengan kekuasaan. Dengan berusaha untuk mencapai superioritas, ia ingin mengubah kelemahan dengan kekuatan atau mencoba mencapai keunggulan pada suatu bidangsebagai kompensasi dari kekurangannya dibidang-bidang lain.


D.    Perkembangan kepribadian salah suai
Pada dasarnya keabnormalan kepribadian seseorang disebabkan oleh inferiority feeling. Inferiority feeling yang tidak ditanggulangi dengan baik atau dibesar-besarkan serta berlangsung secara tidak wajar akan dapat menimbulkan bibit ketidak normalan, apalagi dibarengi dengan: (1) kecacatan fisik maupun mental, (2) perlakuan orang tua yang tidak wajar, dan (3) apabila anak diterlantarkan.
Susunan dalam keluarga dapat memperkuat perasaan rendah diri pada anak. Anak sulung yang diberi perhatian yang banyak sampai anak ke dua lahir memiliki kemungkinan menjadi diterlantarkan sehingga dia bisa mengembangkan kebencian pada orang lain dan merasa diri tidak aman. Anak bungsu cenderung menjadi manja dan takut bersaing dengan kakaknya. Sedangkan anak tunggal dimanjakan oleh orang tuanya dan memiliki kemungkinan menghabiskan sisa hidupnya dengan usaha memperoleh kembali kedudukan yang menyenangkan.

E.     Tujuan konseling

1.      mengubah konsep tentang diri klien sendiri. Individu yang mengalami masalah sebetulnya disebabkan oleh karena konsep diri yang dimilikinya bersifat negative, dalam arti dia sering melihat dirinya tidak sesuai dengan keadaan yang sebenarnya.
2.      melalui perubahan konsep diri sendiri, diharapkan akan dapat berubah pula fisiknya.
3.      dari perubahan fisiknya diharapkan akan berubah pula gaya hidup dan akhir dapat diubah tingkah lakunya.

F.     Proses konseling
Untuk menganalisis tingkah laku klien, konselor hendaklah memperhatikan kaitan antara tingkah laku tersebut dengan aspek lainnya dari diri individu. Sejumlah aspek yang perlu dipahami oleh konselor, direkomendasika oleh Hansen (1977) sebagai berikut:
1.      tingkah laku holistic (yaitu tingkah laku yang ada sangkut pautnya atau tidak berdiri sendiri), hanya dapat dimengerti dalam kesatuannya.
2.      pentingnya suatu tingkah laku itu tergantung pada hubungan dengan akibat yang ditimbulkannya. Dalam proses konseling, tidak semua tingkah laku ditelusuri, namun konselor hanya mengungkap bagian penting saja dari tingkah laku, khususnya yang menjadi penyebab timbulnya salah suai tersebut.
3.      sebagai makhluk sosial, tingkah laku individu itu hanya bisa dimengerti dalam kaitan dengan hal-hal yang bersifat social
4.      motifasi individu hanya dapat dimengerti dengan baik apabila dipandang dari bagaimana individu mencari pengakuan dari orang lain akan tingkah laku yang ditampilkannya.
5.      tingkah laku individu selalu diarahkan pada tujuan tertentu.
6.      rasa memiliki dan dimiliki adalah sesuatu yang mendasar bagi keberadaan manusia. Dengan demikian tingkah laku individu sering ditentukan oleh rasa ini.
Penyelenggaraan konseling model psikologi individual ini, para konselor perlu memperhatikan aspek hubungan antara konselor dank lien. Hubungan baik keduanya akan banyak mendukung bagi pencapaian keberhasilan konseling. Untuk itu beberapa hal yang dapat dipedomani oleh konselor menurut Hansen (1977) adalah:
1.      harus berwujud hubungan social yang akrab antara konselor dank lien, dan jangan sampai terjadi kesalah pahaman atau pertengkaran.
2.      konselor hendaklah mendengan dan memahami dengan lembut apa-apa yang disampaikan klien.
3.      proses konseling hendaklah melalui tahap-tahap berikut:
a.       konselor mencoba berusaha untuk mengerti tujuan-tujuan hidup dan gaya hidup klien.
b.      Kemudian konselor berusaha menganalisis dan menafsirkan tingkah laku klien.
c.       Menganalisis permasalahan itu dalam kaitannya dengan minat social klien.

G.    Teknik konseling
    1. menganalisis gaya hidup klien. Kegiatan yang termasuk dalam hal ini adalah:
a.       konselor harus sampai pada kenyataan tentang factor-faktor yang meyakinkan akan mempengaruhi kepribadian klien sampai dia mengalami masalah hingga saat konseling berlangsung.
b.      Pemahaman yang sebenarnya tentang pola-pola tingkah lakunya selama ini secara nyata, untuk menemukan kesenjangan.
c.       Konselor harus sampai dapat membandingkan konstelasi (keadaan) keluarga dimana klien hidup dengan yang seharusnya, sebab semua itu akan mempengaruhitingkah laku klien.
d.      Konselor harus bisa menyampaikan penafsirannya kepada klien, tentang hubungan apa yang diperolehnya dari butir a, b, dan c tersebut.
    1.  menginterpretasikan ingatan-ingatan masa lampau yang lebih ada kaitannya dengan kondisi sekarang, yaitu keadaan pada waktu berumur dibawah 10 tahun. Keadaan masa lampau itu diperkirakan akan berpengaruh pada masa sekarang, khususnya pembentukan kepribadian yang abnormal.
    2. dengan penafsiran tersebut diharapkan persepsi klien berubah, dan pada akhirnya dia dapat mengubah tingkah lakunya, sehingga sesuai dengan keadaan sekarang.

KONSELING BEHAVIORISTIK (KONBE)


A.    Pengantar Konseling Behavioristik
Bihavioristik merupakan aliran psikologi yang didirikan oleh Jhon B. Watson pada tahun 1913.  Aliran Behavioristik juga merupakan aliran yang revolusioner, kuat dan berpengaruh serta memiliki akar sejarah yang cukup dalam. Sejumlah filosuf dan ilmuwan sebelum Watson, dalam satu dan lain bentuk telah mengajukan gagasan-gagasan mengenai pendekatan objektif dalam mempelajari manusia berdasarkan pandangan yang mekanistis dan matrealistis, suatu pendekatan yang menjadi cirri utama dari behavioristik,
Penekanan Watson atas pegkondisian dalam kerangka kerja behavioristik telah mendorong lahirnya sejumlah gagasan dan studi ilmiah mengenai proses belajar atau pembelajaran (learning). Pembelajaran ini menjadi titik perhatian utama para behavioris haingga saat ini.
Model Konseling Behavioristik dikembangkan berdasarkan penelitian eksperimen mengenai teori belajar. Sejalan dengan pendekatan yang digunakan dalam teori behavioral, konseling, behavioral menaruh perhatian pada upaya perubahan perilaku. Sebagai sebuah pendekatan yang relative baru, perkembangannya sejak tahun 1960-an. Konseling behavioral telah member implikasi yang amat besar dan spesifik pada teknik dan strategi konseling dan dapat diintegrasikan kedalam pendekatan lain.

B.     Pandangan Tentang Manusia
1.      Manusia adalah makhluk reaktif yang tingkah lakunya dikontrol oleh factor-faktor dari luar
2.      Tingkah laku dipelajari ketika individu berinteraksi dengan lingkungan, melalui hokum-hukum belajar :
a.       Pembiasaan Klasik (PK)
b.      Pembiasaan Operan (PO)
c.       Peniruan (PI)

3.      Tingkah laku tertentu terkait dengan kepuasan atau ketidakpuasan yang diperolehnya.
4.      Dengan demikian individu melalui pengalaman mengembangkannya kepada pola-pola tingkah laku tertentu.

C.    Konsep Tentang Tingkah Laku Manusia
1.      Asumsi Dasar
Terdapat 3 Asumsi yang mendasar teori Skiner mengenai tingkah laku, dimana
 a. Asumsi pertama, adalah bahwa tingkah laku itu ditentukan oleh aturan-aturan hokum, yang artinya adalah upaya urutan terjadinya tingkah laku dalam kaitannya dengan suatu kejadian.
b. Asumsi kedua tingkah laku dapat diramalkan
c. Asumsi ketiga tingkah laku dapat dikontrol/dikendalikan dalam arti individu dapat mengantisipasi atau mengetahui terlebih dahulu keluasan aktifitas atau perilakunya.
2.      Tipe-tipe Tingkah Laku
Skiner membedakan 2 ipe tingkah laku, Yakni Operan Dan Responden.
Tingkah laku operan adalah organism berbuat dalam ketiadaan rangsangan.
Tingkah laku responden adalah bahwa organisme melakukan respon yang spesifik yang ditimbulkan oleh stimulus yang dikenal, dan stimulus itu selalu merespon yang spesifik yang ditimbulkan oleh stimulus yang dikenal, dan stimulus itu selalu mendahului respon.

D.    Teori Kepribadian
1.      Teori Belajar Klasik
Perilaku manusia merupakan fungsi dari stimulus. Eksperimen yang dilakukan Pavlov terhadap anjing telah menunjukkan bahwa perilaku belajar terjadi karena adanya asosiasi antara perilaku dengan lingkungannya. Belajar dengan asosiasi ini biasanya disebut classical conditioning.
2.      Teori Belajar Perilaku Operan
Belajar perilaku operan dikemukakan oleh Skinner. Dia lebih menekankan pada peran lingkungan dalam bentuk konsekuensi-konsekuensi yang mengikuti dari suatu perilaku.

3.      Teori Belajar Dengan Mencontoh
Teori ini dikemukakan oleh Bandura. Menurut Bandura perilaku dapat terbentuk melalui observasi model secara langsung yang disebut dengan imitasi dan melalui pengamatan tidak langsung yang disebut dengan vicarious conditioning.
Perilaku manusia dapat terjadi dengan mencontoh langsung (modeling) maupun mencontoh tidak langsung (vicarious) dapat menjadi kuat kalau mendapatkan ganjaran.

E.     Perkembangan Kepribadian Salah Suai
Perilaku yang bermasalah dalam pandangan Behavioris dapat dimaknakan sebagai perilaku atau kebiasaan-kebiasaan negative atau perilaku yang tidak tepat, yaitu perilaku yang tidak sesuai dengan yang diharapkan. Perilaku yang salah suai terbentuk melalui proses interaksi dengan lingkungannya. Artinya bahwa perilaku individu itu meskipun secara social adalah tidak tepat, dalam beberapa saat memperoleh ganjaran dari pihak tertentu.
Perilaku yang salah suai dalam penyesuaian dengan demikian berbeda dengan perilaku normal. Perbedaan ini tidak terletak pada cara mempelajarinya, tetapi pada tingkatannya yaitu tidak wajar dipandang. Perilaku yang perlu dipertahankan atau dibentuk pada individu adalah perilaku yang bukan sekedar memperoleh kepuasan pada jangka pendek, tetapi perilaku yang tidak menghadapi kesulitan-kesulitan yang lebih luas, dan dalam jangka yang lebih panjang.

F.      Tujuan Konseling
1.      Tujuan Konseling harus dinyatakan dalam bentuk dan istilah-istilah khusus, melalui:
a.       Definisi masalah
b.      Sejarah perkembangan klien, untuk mengungkapkan :
·         Kesuksesan/kegagalan
·         Kekuatan-kelemahan
·         Pola hubungan interpersonal
·         Tingkah laku penyesuaian
·         Area masalah

c.       Merumuskan tujuan-tujuan khusus
d.      Menentukan metode untuk mencapai perubahan tingkah laku.
2.      Konselor dank lien bersama-sama (bekerja sama) menetapkan/merumuskan tujuan-tujuan khusus konseling.
Krumboltz (Pietrofesa dkk, 1978) Menegaskan 3 kriteria tujuan konseling, yaitu:
1.      Tujuan konseling harus dibuat secara berbeda untuk setiap klien
2.      Tujuan konseling untuk setiap klien akan dapat dipadukan dengan nilai-nilai konselor, meskipun tidak perlu identik
3.      Tujuan konseling disusun secara bertingkat, yang dirumuskan dengan perilaku yang dapat diamati dan dicapai klien.

G.    Teknik-Teknik Konseling
a.      Teknik KOnseling behavioral didasarkan pada : penghapusan respon yang telah dipelajari ( yang membentuk pola tingkah laku ) terhadap perangsang, dengan demikian respon-respon yang baru akan dapat dibentuk.
b.      Teknik umum :
-          Shaping
-          Extinction
-          Reinforcing uncompatible behaviors
-          Imitative Learning
-          Contracting
-          Cognitive learning
-          Covert reinforcement
c.       Teknik Khusus
-          Latihan Keliguan
-          Latihan respon-respon seksual
-          Latihan penenangan
-          desensitisasi

KONSELING GESTALT
(KONGES)
A.    Pengantar Konseling Gestalt
Konseling Gestalt diciptakan dan dikembangkan oleh Frederick S. Peris. Konseling Gestalt mengemukakan teori mengenai struktur dan perkembangan kepribadian yang mendasari proses konselingnya, serta serangkaian eksperimen yang dapat dipergunakan langsung oleh para penggunanya. Mengenai klien yang menjadi sasarannya, dapat disimpulkan bahwa klien terdiri dari anak-anak, remaja, dewasa, murid sekolah pegawai dan lain sebagainya.

B.      Konsep- Konsep Dasar
1.    Suatu dorongan pokok yang menyebabkan manusia seperti ini adalah dorongan untuk beraktualisasi diri atau dorongan untuk mewujudkan diri.
2.    Perkembangan Kepribadian merupakan hasil perjuangan individu untuk menyeimbangkan keinginan-keinginan yang ada pada dirinya yang seringkali berada dalam konflik.
3.    Keberadaan individu yang normal yaitu kalau ada keseimbangan antara self dan self-image dan melihat keharusan dari lingkungan, serta tuntutan lingkungan, dengan demikian, sebaliknya individu yang salah suai adalah individu yang tidak seimbang antara self dan self-imagenya

C.    Teori Kepribadian
1.      Kekuatan yang memotivasi perkembangan kepribadian :
a.       Dorongan utama individu adalah untuk mencapai :
-          Self actualization
-          Self regulation
b.      Hal tersebut dapat dicapai 3 tahap :
-          Social
-          Psychophysical
-          Spiritual
c.       Melalui 3 proses, yaitu proses tiga A:
-          Adaptation
-          Acknowledgment
-          Approbation

2.      Kepribadian adalah produk dari interaksi antara individu dengan lingkungan yang dipersepsinya.
3.      Kepribadian terdiri dari tiga entitas : self, self-image, dan being.

D.    Tingkah Laku Salah Suai
1.      Kekurangan kesadaran
2.      Kurangnya tanggung jawab terhadap diri sendiri dan lingkungan.
3.      Tidak ada kontak dengan lingkungan
4.      Ketidakmampuan menyelesaikan gestal
5.       Menolak kebutuhan-kebutuhan diri sendiri yang sebenarnya penting bagi dirinya
6.      Orang yang mengadakan dikotominasi, meletakkan diri sendiri pada posisi dua kutub yang berlawanan.

E.     Tujuan Konseling
1.      Membangun integrasi kepribadian
2.      Mengentaskan individu dari kondisinya yang tergantung pada pertimbangan orang lain ke mengatur diri sendiri
3.      Integrasi tidak pernah sempurna, kematangan tidak pernah penuh.
4.      Meningkatkan kesadaran individual.

F.      Peranan Konselor  dan Proses Konseling
·         Peran Konselor
1.      Membangun suasana yang memungkinkan klien menemukan kebutuhan-kebutuhannya sendiri
2.      Mengungkapkan bagian-bagian diri klien yang tunduk dan menyerah terhadap tuntutan lingkungan
3.      Memberikan kesempatan kepada klien untuk berpengalaman bahwa dirinya berkembang.
·         Proses Konseling
Proses Konseling bersifat aktif, konfrontatif

G.    Teknik Konseling
a.       Teknik Umum :
-          Proses Pengawalan
-          Orientasi sekarang dan disini
b.      Memfrustasikan klien
c.       Teknik eksperiensial.